Hello From Mount Prau 2565 MDPL

Sunrise puncak prau 2565 mdpl
Sunrise puncak prau 2565 mdpl

Satu hal yang aku takutkan sejak itu. Ketagihan naik gunung -_-

Yang awalnya aku hanya ingin mencoba, atau sekedar mencari sesuatu untuk sedikit melepaskan sesak di dada. Atau hanya ingin membuktikan bahwa duniaku tidak terbatas itu-itu saja. Entahlah…

But its okay. Karena perjalanan seperti itu, memberiku lebih dari apa yang aku inginkan. Selama itu berpengaruh baik dan bikin semangat. Aku berangkat πŸ˜€

Sore itu sabtu, 12 agustus 2015

Yeah weekend. Weekend waktu itu kita ke wonosobo. Bukan ke sumbing lagi, kali ini ke Gunung Prau. Katanya sih, viewnya lebih bagus dari Gunung Sumbing. Penasaran…

Yap, seperti biasa, dimana ada aku pasti ada Mbak Dhani dong. Nggak lupa bos besar kita, Mas Mamat. Temen-temen kece kayak Mbak Citra, Mas Bagus, Mas Dwi, Mas Risna, Mas Ian dan satu lagi. Mas uya, dia juga ex KKN klotakan 2 tahun lalu.

Kali ini kita kumpul di klotakan, menuju tempat Om Ndaru, kita mau camp disana :D. Entahlah, bersama mereka, waktu berjalan begitu cepat. Jogja-Wonosobo ditempuh setara dengan beberapa ucap kata saja. Atau, ini hanya perasaanku saja. Abaikan. Terpenting, bersama mereka aku tidak hanya tertawa.

Kembali ke gunung. Dari rumah Om Ndaru ke Basecamp Prau butuh sekitar 1 jam. Jadi, jam 12 malam kita berangkat ke sana dan rencana akan langsung naik. Oh iya, kita naik mengantarkan pasangan serasi loh. Om Ndaru dan Mbak Dwi. Nggak nyangka aja mereka bakal ikut. Ah mereka πŸ™‚

Untuk sampai ke puncak prau, butuh waktu sekitar 3 jam dengan trek yang lumayan. Enaknya, disini trek udah ditata, menyerupai tangga. Tapi tetep hati-hati dong kalau terpeleset.

Suasana malam yang lain dari biasanya. Malam identik dengan sepi, kali ini ramai para pendaki. Setelah registrasi 10.000 per orang, kita mulai naik.

Peta pendakian gunung prau :)
Peta pendakian gunung prau πŸ™‚

Yeay, akhirnya naik gunung lagi. Sempet ngos-ngosan, karena mereka jalannya cepet. Oke, kita jalan melewati ondo sewu, diantara rumah warga. Ondo sewu ini berupa tangga yang sudah dibuat permanen dengan cor. Keluar dari ondo sewu kita lewat jalan warga berbatu, sampai di pos I, sikut dewo. Di sini akan di cek tiket registrasi tiap kelompok.

Mmmmmhhhh perjalanan menjelang pagi ditemani bintang-bintang. Nggak bisa diungkapkan kata-kata bagaimana rasanya. Aku hanya menikmati saja. Candaan kita mengantarkan ke pos II, canggal walangan. Sempet kasihan liat mbak yang katanya tadi jatuh. Alhamdulillah udah ditolong tim dari basecamp.

Cacingan, apa itu? Ini pos III, kata mas risna sih, dinamai cacingan karena akar-akar pohon di sini menyerupai cacing. Ah, aku tetep aja konsen sama bintang-bintang di atas sana πŸ™‚

Sampai nggak terasa, puncak sudah di depan mata. Banyak tenda-tenda camp di atas sana. Dan, baru jam 04.00. Perjalanan lebih cepat dari yang direncanakan*tepuktangan.

Saat-saat seperti inilah yang selalu membuat waktuku tersita, hanya untuk
sekedar mengingat lalu merindukannya. Makan bersama, menunggu matahari menyapa πŸ™‚

Subhanallah, sungguh, seni paling indah hanya milikNya. Aku seperti ingin sendiri, menikmati semilir angin pagi yang tanpa permisi menusuk tulang. Merobek jaket sederhanaku yang memang tidak menghangatkan. Tapi bersama mereka dan dikelilingi keindahan seperti ini, segalanya terasa hangat πŸ™‚

Bersama mereka aku bisa mendadak gila. Bersama mereka, tertawa itu hal yang mudah.

20150913_055509

Dwi risna bagus ian uya mamat citra dhani rini :)
Dwi risna bagus ian uya mamat citra dhani rini πŸ™‚
Sama cewek-cewek setrong :D
Sama cewek-cewek setrong πŸ˜€

Nah, akhirnya adzan subuh sudah terdengar, kita sholat jamaah disana. Di puncak gunung prau dengan ketinggian 2565 mdpl ini kita bosa leluasa untuk menikmati sunrise, karena cukup luas. Tapi untuk pendaki seperti mas risna dan mas dwi, ngapain lagi setelah sampai puncak selain tidur?muka bantal πŸ˜€

Dapat salam dari gunung prau :)
Dapat salam dari gunung prau πŸ™‚

Setelah puas dan bekal makanan habis, kita turun. Ternyata, view kota wonosobo dari atas gunung prau sangat keren. Kita dikelilingi bukit-bukit yang dijadikan lahan pertanian oleh warga. Di kejauhan juga terlihat kawah sikidang yang terlihat beruap.

Suka sama bunga yang tumbuh liar disini.
Suka sama bunga yang tumbuh liar disini.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk turun. Hanya dengan bercanda meneruskan setiap suku kata yang diucapkan, kita sudah sampai basecamp πŸ˜€

Satu pelajaran disini, vocabulary ku sangat minim.duh πŸ˜€

Oke, kembali ke gunung prau ditemani pemandangan yang luar biasa ini.

Perjalanan turun
Perjalanan turun
Wonosobo dari lereng prau
Wonosobo dari lereng prau

Sampai basecamp kira-kira pukul 9 pagi, kita masih merencanakan untuk mampir ke dieng. Mmmhhhh nggak ada capeknya kalau sama mereka.

Oke, sempat ada sedikit masalah karena peraturan baru untuk memasuki kawasan wisata dieng. Bukannya tidak mau nurut, jengkel karenadi php sama petugas retribusinya. Alhasil kita cuma muter-muter di kawasan ini dan mampir sebentar ke dieng volcano theatre. Disana pun kita malah tidur saat film asal usul wonosobo diputar. Hahaha maafkeun kami.

Di dalam dieng volcano theatre
Di dalam dieng volcano theatre jadi pengunjung paling kucel tapi kece dong πŸ˜€

Nah, ini saat-saat yang aku tidak suka, paling tidak suka. Perjalanan pulang 😦

Rasanya males mau pulang hehehe. Tapi okelah, waktu harus tetap berjalan. Pulang. Kerja lagi buat jalan-jalan lagi hehehe.

Mampir foto di gapura kawasan dieng plateu:)
Mampir foto di gapura kawasan dieng plateu:)

Oke sampai jumpa lagi wonosobo..terimakasih semua kesediaan untuk kita nikmati hari ini πŸ™‚


4 respons untuk β€˜Hello From Mount Prau 2565 MDPL’

  1. Pernah sekali lewat Patak Banteng, teranyata ramainya gak karuan…
    Lalu pendakian berikutnya sengaja milih jalur Wates di Temanggung, eh naik turun cuman ketemu 7 pendaki di jalan…ahahha

    Suka

    1. Iyaa di Patang Beteng kayak pasar waktu itu. Tapi berhubung kami nggak ngecamp ya, baiklah masih bisa dimaklumi. Hehehe.
      Jalur Wates? Sekarang masih sepi juga nggak ya kira-kira πŸ˜€

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sekarang masih sepi kok, kebanyakan orang tetep milih Patang Banteng karena deket ke puncak.

        April akhir sih niatnya mau nostalgia lagi via Jalur Wates…

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s