Kelas Heritage di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Siapa sih yang nggak tau Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta? Setiap upacara grebeg di Masjid ini selalu ramai pengunjung yang ingin mendapatkan jatah “gunungan” yang sebenarnya itu merupakan simbol sedekah Sultan.

20160320_111326

Berawal dari penasaran, aku ikut deh Kelas Heritage di Masjid Gedhe yang diadakan oleh Komunitas Yogyakarta Night at the Museum. Kelas ini recommended banget buat yang ingin mengisi liburan yang bermanfaat sekaligus belajar banyak hal. Kalau teman-teman ingin ikutan, bisa follow @malamuseum untuk cari info acara tiap periodenya.

20160320_100510

Nah di Kelas Heritage pekan ini, 20 maret 2016 diadakan di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Selain mengungkap keunikan Masjid ini, peserta juga diajak berdiskusi tentang “Menjadi Islam, Menjadi Jawa dan Menjadi Islam Jawa” di serambi masjid.

Kelas dimulai pukul 09:00 dengan perkenalan, masuk di pelaratan Masjid bersama pemandu dan takmir Masjid Gedhe, Bapak Gatot dan Mas Anwar. Bapak Gatot ini yang akan memberikan penjelasan dan filosofi mengenai sejarah masjid yang berdiri tahun 1773 ini. Beliau menyampaikan dengan santai dan mengalir, mudah dimengerti.

1. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Masjid ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I setelah Kraton Ngayogyakarta berdiri. Sebagai khalifah, beliau membangun Masjid untuk kepentingan beribadah rakyatnya. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Gedhe terjadi pada tanggal 29 Mei 1773. Uniknya, masjid ini oleh arsitek Jawa bukan Belanda, yaitu Kyai Wiryo Kusumo. Beliau adalah seorang abdi dalem kraton. Dan, masjid ini dibangun oleh 250 orang. Banyak sekali kan? Ya karena pada zaman dahulu, belum ada tekhnologi canggih seperti sekarang ini.

Masjid Gedhe ini memiliki 2 bangunan utama, 1 bangunan induk untuk sholat, 1 lagi serambi yang disebut sebagai Mahkamah Alkabirah (tempat sidang berbagai masalah). Bangunan serambi sendiri tidak sekaligus dibuat, baru pada tahun 1776, sekitar 3 tahun kemudian.

Masuk ke bagian induk masjid, kita akan melihat prasasti pembangunan masjid bagian dalam bertuliskan arab di sebelah kanan pintu utama, dan prasasti bertuliskan aksara jawa di sebelah kiri pintu utama. Sedangkan di pintu kecil adalah prasasti pembangunan serambi masjid.

Sedikit ke dalam, kita sudah masuk bagian induk masjid yang dipergunakan untuk sholat. Ada 36 tiang dari kayu jati yang sangat besar, oleh peneliti dari UGM diperkirakan berusia 250 tahun. Nah jumlah 36 ini ada filosofinya lho. Tiang ini berjumlah genap dan diagonal selalu genap, berjumlah 6, karena ibadah harus didasarkan pada iman. Nah 4 tiang paling besar disebut saka guru, tiang ini berada tepat ditengah bangunan. Dan, 36 tiang kayu jati asli belum pernah diganti sekalipun!. Katanya, kayu jati sebesar ini berasal dari Desa Bagelen, Jawa Tengah. Lalu transportasinya? Pak Gatot bilang, melalui aliran sungai. Wah zaman dahulu, semua serba alami ya.

Di bagian depan ada sebuah ruang khusus seperti kubus yang terbuat dari ukir-ukiran berwarna emas, disebut matsyuro. Matsyuro ini adalah tempat khusus untuk Sri Sultan sewaktu mengikuti sholat berjamaah. Tapi sejak Sri Sultan HB X, matsyuro ini tidak digunakan lagi. Beliau memilih berjamaah di shaf paling depan agar sama dengan rakyatnya.

Nah ciri khas masjid zaman dahulu, dibangun dengan 2 mimbar. Yang 1 mimbar khusus hari besar dan sholat jumat, 1 untuk sholat 5 waktu. Ciri khas yang lain adalah 1 pintu utama dibangun lebih besar dari pintu lain, ini khusus untuk Sultan jika berjamaah di masjid. Dan pintu pinggir, untuk masuk rakyatnya. Pintu sebelah kiri disebut pintu pabongan, khusus untuk abdi dalem menyiapkan minuman untuk Sultan. Tapi sejak Sri Sultan HB X juga, pintu utama boleh dibuka untuk umum.

Di Masjid Gedhe ini ada 2 bangunan tambahan. Yatihun, bangunan tambahan sebelah kanan yang berguna untuk berembug para ulama. Zaman dahulu, khusus para ulama yang boleh memasuki bangunan ini. Yang sebelah kiri adalah pawestren, dari kata pawestri, yaitu khusus untuk wanita saat sholat jumat.

Kembali ke serambi, ternyata masih banyak hal unik terutama filosofinya. Tiang kayu di serambi masjid terdapat ukir-ukiran bermotif lung-lungan, artinya tumbuhan yang saling terkait, dengan filosofi sebagai orang jawa kita harus “lomo” dan saling tolong menolong.

Di tiang itu juga terdapat ukiran motif putri mirong, yang menarik Sang Sultan untuk berlama-lama duduk di dekatnya. Lukisan putri mirong ini, dari bawah ke atas ada maknanya. Paling bawah adalah simbol bunga teratai, yang artinya menghormati budha yang sudah ada sebelum adanya islam. Ke atas lagi ada simbol hindu sekaligus konsep kehidupan manusia bahwa kehidupan tertinggi adalah akhirat. Digambarkan dengan garis lebih tinggi, yaitu hubungan manusia dengan Tuhannya. 2 garis yang tingginya sama menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan sesamanya. Lebih ke atas lagi, adalah ukiran Muhammad sebagai Rasul, dan paling atas adalah ukiran Allah.

Nah kalau selama ini ada yang penasaran kenapa Masjid ini berwarna warni di serambi, sedangkan di bangunan induk berwarna gelap saja, disini kita akan tahu makna dari semua itu. Bangunan induk berwarna coklat gelap aja, karena bangunan induk hanya untuk ibadah manusia kepada Tuhannya (habluminallah). Bangunan serambi berwarna-warni melambangkan kehidupan manusia di dunia (habluminannas). Tetapi, hanya ada 5 macam warna di serambi Masjid Gedhe ini. Yaitu warna emas, melambangkan shubuh, warna putih melambangkan dhuhur, warna hijau melambangkan ashar, warna merah melambangkan maghrib dan warna hitam melambangkan isya.

Sedikit keluar serambi, ada kolam yang sebenarnya dahulu dimaksudkan untum batas suci. Kolam ini dulunya dialiri air yang bersumber di kali larangan (zaman dahulu nggak boleh membuang kotoran di kali ini). Kolam (jagan) ini dibuat mengitari masjid, tetapi seiring pergeseran manusia yang (entah) beberapa bagian dibuat jalan dengan semen untuk menuju ke masjid.

Uniknya, di Masjid ini tidak ada menara karena Sultan berpandangan bahwa beliau dan rakyatnya adalah islam jawa bukan islam arab. Jadi sebagai pertanda waktu sholat, ada sebuah bedug yang sangat besar. Bedug ini sekarang disimpan di Kraton karena sudah lapuk dan belum ada kulit kerbau yang ukurannya sesuai dengan ukuran bedug tersebut.

Setelah dari serambi kita keluar menuju halaman depan masjid untuk melihat arsitektur atap. Konsep tajuk lambang teplok, atau konsep atap 3 masjid ini juga punya makna filosofi lho! Mulai dari paling bawah, yang berbentuk luas, bermakna untuk menjadi islam siapa saja bisa melakukannya, dan ini sangat luas. Atap bagian tengah bermakna menjadi islam yang beriman, semakin sedikit jumlahnya. Atap bagian atas bermakna ma’rifat, yaitu orang yang mengenal Tuhannya, yang semakin sedikit jumlahnya.

Di bagian paling atas atap adalah simbol gada, yang bermakna tujuan manusia hanyalah Tuhan. Gada ini berbentuk seperti kluwih, karena setiap ma’rifat pasti “linuwih” atau lebih. Bunga matahari melambangkan ma’rifat pasti membuat pencerahan dimana-mana.

Di halaman Masjid Gedhe, hanya ada 4 macam tumbuhan yang bolh di tanam. Pertama adalah pohon sawo kecik, yang bermakna sarwo becik (selalu berbuat baik). Pohon bunga kanthil,yang bermakn manusia seharusnya selalu kemanthil (mencintai masjid). Pohon sawo, yang bermakna bersatu dengan yang lain. Terakhir adalah pohon tanjung, yang artinya sanjung dan junjung (hanya Allah yang kita junjung).

2. Menjadi Islam, Menjadi Jawa dan Menjadi Islam Jawa.

Di sesi kedua, kita menikmati secangkir teh hangat dan klepon, sambil berdiskusi tentang sejarah perkembangan islam di Jawa. Topik ini sangat menarik. Kebudayaan dan religiusitas masyarakat Jawa telah terjadi jauh sevelum Islam datang ke Pulau Jawa. Mengingat banyak sekali ragam seni, arsitektural, literatur dan kebudayaan masa Hindhu-Budha di Jawa yang membuat kagum masyarakat.

Pada awal ke 17, Pulau Jawa dikuasai oleh Dinasti Mataram yang memunculkan penguasa terbesar di Jawa yaitu Sultan Agung. Beliau mempertemukan dan mendamaikan keraton dan tradisi-tradisi Islam. Sultan Agung tidak memutus hubungan mistisnya dengan penguasa alam ghaib Ratu Kidul yang tentu saja tidak bersifat islami, di sisi lain Sultan juga berupaya menjadikan kerajaan lebih islami. Ini bisa dilihat dari pembangunan masjid sebagai tempat ibadah dalam catur gatra (kraton, alun-alun, masjid, pasar).

Perubahan sosial dan religius masyarakat muslim jawa terpolarisasi. Munculnya putihan dan abangan adalah contoh yang ada saat ini. Putihan adalah golongan yng mengklaim pemurnian ajaran Islam dan abangan adalah kalangan yang tetap mempertahankan sintesis mistik. Sampai saat ini, masyarakat Jawa masih diwarnai keberagaman.

 

 


5 respons untuk ‘Kelas Heritage di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s