Mozaik-mozaik Kulon Progo dalam Bingkai Sederhana

IMG_20170401_225945
Kulon Progo dalam Lintasan Sejarah (foto: @watespahpoh)

Kulon Progo, tanah masa depan yang penuh harapan. Begitu judul sebuah tulisan anonim yang dicetak di selembar kertas merah. Ditempel di papan putih dengan beberapa testimoni dan tanda tangan, mungkin ditulis saat pembukaan. Seonggok arsip yang tidak terselamatkan karena penyimpanan dan perawatan kurang baik, disimpan di kotak kaca, diletakkan di depannya. Wujudnya sudah menyerupai gumpalan hitam dengan kertas-kertas buram yang jika jeli, masih bisa dilihat deretan tulisan-tulisan.

Begitulah sambutan selamat datang kunjungan saya ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kulon Progo minggu lalu. Saya lebih sering menyebutnya, perpusda.

Tarub merah di halaman sebelah kanan bangunan perpusda, serta foto-foto random yang berkisah tentang Kulon Progo masa lalu hingga sekarang, seolah membuat saya hanyut dalam mozaik-mozaik kehidupan di Kulon Progo. Bahwa selain Kalibiru dan air terjun-air terjun yang menyejukkan mata, sebenarnya Kulon Progo ini kaya akan destinasi yang menyimpan banyak cerita.

IMG_20170401_225831
Progo kala itu (Foto: @bernadetaardi_)

Saya terus menelusuri deretan foto-foto random Kulon Progo masa silam. Berhenti di depan beberapa foto stasiun. Pertama, kerumunan calon penumpang di Stasiun Wates, stasiun yang masih aktif di Kabupaten Kulon Progo. Tidak tertera foto diambil tahun berapa, yang pasti, wujud bangunan sudah seperti sekarang ini dan kerumunan orang masih tak teratur.

Kedua, bangunan Stasiun Kedundang, Temon. Stasiun nonaktif ini dibangun tahun 1876-1887 StaatSpoorwgen. Cikal bakal perkereta-apian saat ini. Lalu satu lagi stasiun nonaktif di Sentolo. Stasiun Kalimenur yang terletak di Kalimenur, Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo.

20170326_160417
Stasiun Kedundang seiring berjalannya waktu~

Melihat foto-foto stasiun tersebut malah membuat saya penasaran akan kisahnya. Karena selama ini, saya hanya tahu bahwa Kulon Progo hanya mempunyai satu stasiun, Stasiun Wates. Saya paham, nanti akan pulang dengan rasa penasaran.

Saya beranjak dari foto bangunan stasiun yang di beberapa titik, temboknya sudah mengelupas memperlihatkan batu bata merah. Di titik-titik lain coretan tangan entah yang sama sekali tidak membuatnya terlihat cantik.

Kali ini, saya berpindah ke kehidupan Pabrik Gula Sewugalur bertahun-tahun silam. Foto hitam putih yang diambil sekitar tahun 1917 (sumber:Geheugenvannederland), para pekerja bertelanjang dada pabrik gula Sewu Galur, yang di keterangan tertulis Sewoe Galoor terlihat kontras dengan mandor yang berseragam. Di dalam bangunan seperti gudang, mereka sedang beristirahat.

20170326_155202
Pabrik gula, megah pada masanya

Juga, saya menemui Cosmus Van Bornemann, seorang administratur pabrik gula Sewu Galur kelahiran Semarang,18 Desember 1863 yang berfoto dengan beberapa kerabat. Saya perhatikan daun pintu dan ornamen bagian atas foto yang menurut sumber diambil tahun 1906 ini. Masih sama persis dengan keadaan saat ini, yang sering saya lewati sebagai akses menuju Pasar Mbabrik.

Melihat foto selanjutnya, saya tidak menyangka, lapangan sepak bola di Sewu Galur yang sering saya lewati ketika sowan ke rumah simbah itu, pernah berdiri megah sebuah pabrik gula lengkap dengan cerobong asap yang menjulang tinggi. Terlihat sibuknya aktifitas bongkar muat tebu menggunakan angkutan sapi. Kini, cerobong asap hanya tersisa satu meter saja. Juga stasiun untuk lalu lintas tebu dan hasil produksi sudah bertransformasi menjadi gedung SMP Negeri 2 Galur.

Penelusuran masih panjang, saya sampai di depan Rumah Sakit Petronella Sewoe Galoor, Galur. Beroperasi saat pabrik gula masih berfungsi, rumah sakit ini diperkirakan berada di sekitar Tegal Buret. Mereka fokus menangani wabah malaria yang menyerang bagian selatan Kulon Progo yang dulunya memang masih banyak rawa-rawa. Bisa jadi, simbah-simbah saya terdahulu menjadi bagian dari cerita wabah malaria dan Rumah Sakit Petronella ini. Karena, lokasinya sangat dekat. Sekarang ini, area ini sudah menjadi sebuah desa yang nyaman, berimbang antara sawah dan pemukiman yang masih begitu asri.

Jauh masuk ke dalam ruang pameran, saya sampai di kotak kaca berisi alat-alat arsip. Piringan hitam, kaset, VCD, kertas, pulpen, kamera. Di sekitarnya, beberapa arsip-arsip kuno diselipkan dalam bingkai hitam. Dari tulisan tangan yang khas tangan-tangan pejabat terdahulu, ketikan dengan ejaan lama sampai arsip dengan jenis huruf times new roman.

20170326_153746
Tulisan, sebagai arsip, perjalanan dalam kenangan 😀

Pameran ini sendiri, selain ingin menceritakan Kulon Progo dalam lini masa juga mengedukasi masyarakat agar berbudaya tertib arsip. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kulon Progo yang bekerja sama dengan Watespahpoh dan BPAD DIY ingin meningkatkan budaya arsip sejak arsip pribadi, keluarga, pedukuhan, desa, kecamatan, dan arsip tingkat kabupaten termasuk arsip-arsip parpol.

Karena tanpa arsip, tidak ada masa depan. Begitu kata seorang Bapak pegawai BPAD Kulon Progo yang kebetulan sedang berjaga. Saya lupa menanyakan namanya. Malah hanya saling menanyakan alamat rumah dan pekerjaan. Lagi-lagi saya merasa dunia ini terasa sempit, karena ternyata beliau masih terhitung tetangga dengan simbah saya.

Sebenarnya masih banyak lagi foto dan gambar tentang Kulon Progo masa silam dan perkembangannya. Seperti transisi jembatan kereta api bantar, Jembatan Srandakan di bagian selatan, Jembatan Duwet yang semuanya menghubungkan Kulon Progo dan Bantul. Peta rumah candu di daerah selatan Pasar Wates, selatan Pasar Bendungan, selatan Pasar Pripih yang juga ikut andil dalam sibuknya perdagangan dan rutinitas masyarakat terdahulu. Candu yang identik dengan perdagangan Tionghoa, tentunya campur tangan Hindia-Belanda juga.

Sore itu, foto-foto random yang berjejer rapi di bawah tarub merah benar-benar menyadarkan saya. Bahwa selama ini, saya melihat Kulon Progo sebagai ruang kosong ternyata menyimpan begitu banyak cerita. Tentunya, diatas hanya secuil kisahnya saja.

IMG_20170402_140014_544
Kapan, jalan kaki di sini bersama biar nggak kosong begini?

Bagian kecil dari Yogyakarta yang dulunya penggabungan antara dua wilayah, yaitu Adikarto milik Kadipaten Pakualaman dan Kulon Progo milik Kasultanan Ngayogyakarto bukan hanya sebatas ruang kosong untuk tinggal. Tetapi, berbagai kisah sebagai pembelajaran hidup tersemat rapi bagi siapa saja yang datang. Debur ombak laut selatan dan hijaunya perbukitan menoreh di sebelah utara. Benar saja, Kulon Progo sebagai tanah masa depan yang penuh harapan. Seperti perjumpaan awal kunjungan saya tadi.
***

Pukul setengah lima sore, saya pamit ke Bapak penjaga pameran setelah mengisi daftar hadir dan mengobrol sebentar. Membawa perasaan random setelah melihat berbagai foto random. Seperti senang, bersyukur, bahagia, dan penasaran, tentunya kesemakin cintaan kepada tanah kelahiran.

IMG_20170402_135753_038
Pukul 5:11 ke arah barat dari Stasiun Wates, tebak kereta apa 🙂

Saya mampir sebentar membeli es krim, lalu menikmatinya di area persawahan luas di dekat Jalan Sepur II sambil menunggu kereta yang lewat. Tidak apa-apa terdengar sendu, atau apalah. Sebelum semuanya berubah menjadi gedung-gedung tinggi, kawasan industri, belum lagi polusi.

Siapa yang tahu, Kota Wates yang saya rasa masih segar dan asri, kelak tidak akan seperti ini lagi. Mengingat geliat usaha dan etos kerja masyarakat akhir-akhir ini. Siapa yang tahu. Lalu saya mengambil foto suasana sepi ini sebentar. Siapa tahu juga, sebagai arsip belasan tahun ke depan, kan? ðŸ™‚

Iklan

30 respons untuk ‘Mozaik-mozaik Kulon Progo dalam Bingkai Sederhana’

  1. boleh saya menebak? kereta bengawan tujuan pasar senen dari solo purwosari 😉
    kalo ga salah staiun sentolo mau diaktifin lagi, seiring dengan pembangunan NYIA. karena akan dibuat juga kereta bandara

    Suka

    1. bukan. ini bukan bengawan. terlalu sore kalo bengawan hehehe.
      jadwal bengawan dari lempuyangan sekitar 3.30, jadi tiba di wates harusnya jam 4 sore. kemungkinan ini Logawa sekitar jam 4.30 dari Lempuyangan. estimasi perjalanan Lempuyangan – Wates 30-45 menit

      Suka

      1. Nggg. Mas gallant. Ternyata saya salah nulis waktunya. Seharusnya jam 17:50. Dan itu yang benar GBMS bukan kalai jam segitu? Ini malah membuat debat yang berkepanjangan wkwk.

        Disukai oleh 1 orang

  2. Sentolo sekarang statusnya masih stasiun aktif kayaknya. cuma nggak tau ada kereta yang berhenti sana apa enggak. kayaknya sih masih.
    I feel it mbak. Perasaan setelah tau foto jadul daerah sekitar kita. hahaha
    Kalo aku sih ngerasain ngeliat beberapa peninggalan sejarah dari tempatku, kayak rumah rumah gaya Belanda gitu. meski gak tau ceritanya, rasanya gimanaaa gitu. antara pengen tau lebih lanjut, seneng, campur aduk wkwk

    Suka

    1. Yang udah nggak aktif kedundang sama kalimenur kan mas?
      Kayanya nggak berhenti deh mas di sentolo. Eh yang mana sih? Lupa deh. Kudu naik kereta lagi ini.
      Kalau patukan itu masih Jogja nggak ya?
      Iyaa kalau liat bangunan seperti itu emang begitu rasanya. Satu lagi. Horor. Wkwk. Saya paham 😂

      Disukai oleh 1 orang

      1. iya kalo kedundang sama kalimenur udah nggak aktif. kayaknya sih beberapa kereta masih berhenti di sentolo kayak progo gitu. cuma kurang tau. hahaha udah gak pernah naik kereta ke barat lagi. wkwkwk
        patukan udah nggak aktif. patukan ini katanya juga nanti diaktifin buat kereta bandara.
        kalo horror sih lihat gebetan nikah sama orang lain, mbak (ini bukan mbak Dwi)

        Suka

      2. Masa? Aku pernah naik progo tapi nggak berhenti di Sentolo. Tapi dari arah jakarta sih. Ah tapi manut aja deh. Mas gallant lebih berpengalaman hehe 😊

        O jadi patukan ini yang mau jadi kereta bandara? Di beda lokasi atau sama ya. Kalau beda lokasi, beberapa tahun ke depan stasiun patukan yang sekarang gimana ya nasibnya. Pasti menarik.

        Itu bukan horor lagi btw. Tapi tragis. 😊

        Disukai oleh 1 orang

  3. Belum jadi nonton kereta ketika senja huhu.
    Kemarin sempet liat acara ini di timeline bersliweran. Tapi belum ada waktu *tsah
    Nulis bab kaya begini kan ahlinya kamuuu :*

    Suka

    1. Nonton kereta sama rini ketika naik motor udah pernah kan, Mbak wkwk

      Iyaa Mbak Dwi sibuk. Jadi kapan Mbak Dwi ke sini sama dia :*

      Curhat dikit sih :*

      Suka

    1. Bornemann ya? *googling. Hm banyak ya tempat tempat bersejarah di jawa hubungannya sama semarang. Karena waktu itu semarang adalah kota besar dengan pelabuhan, tujuan berlayar, begitu, Mas?

      Suka

    1. Iya saya pernah dengar, Mas. Tapi sama sekali belum pernah ke sana. Hehehe. Maksudnya Taman Winulangkah? Saya juga belum pernah ke sana. Duh memprihatinkan 😦

      Suka

    1. Saya sendiri juga belum tau pasti soal rumah candu itu tepatnya di mana dan seperti apa sekarang mas hehehe. Tapi menurut foto dan penjelasan di pameran kemarin, kurang lebig begitu.

      Suka

  4. Nha, di daerah persawahan tempat eskrimu itu, aku dulu beberapa kali motret milky way di situ,

    ngeblog juga sebernanrya juga termasuk pengarsipan, ahaha

    kalau dalam salah satu bidang geografi, yaitu geomorfologi malah ada istilah “hari ini adalah kunci dari masa lampau” ,ahahaha arispnya dibalik,kwkwkw

    Suka

    1. Nah asyik ya di daerah sawah ini. Ternyata bisa buat hunting milky way juga, Kak 😊

      Betul, ngeblog, menulis, buat arsip apa yang sudah dilewati dan dirasakan wkwk.

      Hehehe ya sih, dan hari ini cerminan masa lampau 😂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s