Malioberen, Ketika Langkah Kaki Mendadak Romantis

Beberapa waktu lalu saya menghabiskan sore di kawasan Malioboro yang sedang ramai-ramainya. Selain sabtu sore, mungkin juga bertepatan dengan libur panjang. Dan Jogja, menjadi tujuan mereka yang sekedar ingin menepi, melepas lelah, maupun berbelanja apa saja.

Sudut nol kilometer, sudut mengukir kisah~

Aktivitas di kawasan Malioboro sendiri, muncul di sebuah surat kabar  Belanda tahun 1940an, yang selanjutnya disebut Malioberen atau plesiran Malioboro. Nah sore itu, saya bermalioberen bersama Komunitas Malamuseum Yogyakarta.

 

Berawal dari titik kumpul di nol kilometer Yogyakarta, kami memulai perjalanan yang akan berujung di Jalan Malioboro, tepatnya ujung Hotel Inna Garuda. Saya yakin, sore itu menjadi perjalanan yang luar biasa. Menapaki jejak-jejak multikultur masa lalu yang tercermin sampai detik ini. Juga, jejak-jejak dua pasang telapak kaki saat terik benar-benar menemani beberapa tahun lalu.

Dari sudut lain 

 

Biru langit pukul empat sore masih menaungi kami. Kak Erwin, seorang pemandu dari Komunitas Malamuseum lekas bercerita. Bermula dari perbedaan Jalan Malioboro dan Kawasan Malioboro serta filosofinya masing-masing, perjalanan yang bagi saya seperti menyusuri lorong waktupun dimulai.

 
***

 

Nol kilometer, salah satu ruang romantis yang identik dengan bangunan megah bercat putih juga lorong panjang Jalan Pangurakan yang menuju ke arah selatan, arah Kraton Yogyakarta. Di sini, para pejalan mengukir kisahnya, para seniman terus berkarya di atas kawasan hasil cipta, karsa, dan rasa Sang Raja, Sri Sultan Hamengku Buwono I.

 

Namun sore itu, Kak Erwin mengajak kami mengedarkan pandangan, menerawang jauh.
“Jadi, titik nol ini adalah titik awal pembangunan Kota Yogyakarta. Orang Belanda itu, datang bersamaan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika Perjanjian Giyanti ditanda tangani. Tempatnya di mana? Boleh menoleh ke belakang.” Tutur Kak Erwin seraya kami menengok ke belakang.

 
Ya, Museum Benteng Vredeburg di belakang kami, dulunya adalah pemukiman pertama orang VOC tahun 1760an, yang masih terbuat dari kayu dan beratapkan ilalang. Menjadi bangunan yang pertama kali berdiri di kawasan Malioboro, mengalami perombakan setelah berkuasanya Daendels, hingga sekarang menjadi sebuah museum bertemakan perjuangan.

 
Di sekitarnya adalah bangunan-bangunan penunjang kehidupan orang Belanda yang hidup di Yogyakarta. Di antaranya De Javasche Bank yang sampai sekarang memang menjadi Gedung Bank Indonesia. Lalu Post, Telegraaf en Telefoon Kantoor sebagai sarana komunikasi orang Belanda dengan mereka yang berada di Eropa. Cukup unik dengan letak menyudut di antara Jalan P Senapati dan Jalan Pangurakan. Sekarang gedung ini menjadi Kantor Pos Besar Yogyakarta.

 
Satu lagi di sudut Jalan Pangurakan dan Jalan KH Ahmad Dahlan, gedung putih berpilar-pilar tinggi. Dulunya, sebagai kantor asuransi orang Belanda, yaitu gedung  Nederlandsch- Indische Levensverzekeringen en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ). Sempat menjadi sebuah kantor radio saat berkuasanya Jepang, hingga kini menjadi gedung BNI 46 Yogyakarta. Menjadi tonggak sejarah bagi BNI karena BNI terlahir di sini, dibidani oleh Margono Djojohadikusumo pada 5 Juli 1946.

 
Sementara tepat di depan Museum Vredeburg, adalah Gedung Agung yang dulunya adalah tempat tinggal Residen dan Gubernur Belanda. Dari tahun 1946 hingga 1949, gedung ini menjadi tempat kediaman resmi Ir. Soekarno, pada saat Kota Jogja menjadi ibukota Republik Indonesia.

 
Beralih ke Gedung Senisono, dahulu Europeesche Societeit, ruang bagi para Belanda mencari hiburan seperti dansa dan bilyard. Sangat lengkap area pemukiman serta gedung-gedung penunjang kehidupan yang berdiri di sini.

 

***

 

Perjalanan kami berlanjut, mencari celah dalam sesaknya pengunjung menuju ke titik kumpul kedua. Sesekali bunyi alat pemotong keramik turut hanyut bersama udara, menuju ruang dengar manusia. Para pekerja pembangunan kawasan Malioboro masik sibuk dengan alatnya. Sampai di pertigaan tepat di depan sebuah jam besar, kami berhenti dan mengamati selembar foto hitam putih di tangan Kak Erwin.

 
“Lho, ini pas di sini, ternyata dulu syahdu dan rimbun begini”, begitu kira-kira saya berkata dalam hati. Benar saja, kami diperlihatkan suasana Gereja Protestan Margomulyo masa lampau. Kerk van Protestantse Gemeente, yang dibangun sejak pertengahan abad 19 untuk kebutuhan rohani orang Belanda, kini menjadi sebuah bangunan cagar budaya yang masih dipergunakan untuk beribadah para Protestan yang berasal dari Minahasa, Makassar dan sebagian Sumatera Utara. Tidak ada yang berubah sejak bangunan ini berdiri sampai sekarang, hanya atap seng diganti dan, himpitan sepeda motor pengunjung Malioboro membuat suasana terlihat berbeda.

 
Bergeser beberapa langkah ke depan, kami sampai di stadsklok. Sebuah jam negara yang dibangun untuk memperingati kembalinya Hindia Belanda ke tangan Belanda dari penjajahan Inggris. Diresmikan tahun 1916, seratus tahun setelah kepergian Raffless. Sampai sekarangpun, jam masih aktif dengan menggunakan energi listrik. Tetapi monumen peringatan sudah dihilangkan.

 
Saya menengok ke jam besar tersebut. Tepat pukul lima sore hingga Kak Erwin lekas mengambil selembar hitam putih potret Pasar Beringharjo tahun 1930an, pasar tertua kedua di Yogyakarta. Pasar, sebagai empat unsur yang harus ada dalam penciptaan sebuah kraton selain kraton itu sendiri, kauman sebagai unsur keagamaan dan alun-alun sebagai unsur sosial. Konon, pasar yang mulai dibangun masa Sri Sultan HB VIII ini pernah mendapat predikat pasar paling cantik se-Hindia Belanda.

 
Tujuan kami selanjutnya adalah Gapura Ketandan. Sebuah gapura megah sebagai batas pemukiman Tionghoa tertua kedua. Ada dua alasan mengapa Pangeran Mangkubumi membawa orang Tionghoa ke Jogja, pertama karena mereka telah membantu perang sang pangeran, serta beliau sangat sadar bahwa orang Tionghoa adalah penggerak roda perekonomian.

Ruko sepanjang kawasan Malioboro

Pemukiman ketandan berbentuk ruko, yang masih bisa kita sambangi sampai hari ini. Tionghoa sendiri, karena sangat hemat, membangun pemukiman dengan lantai bawah sebagai toko dan lantai atas sebagai ruang istirahat. Hingga atas detail pemikiran dan kepedulian Romo Mangun, pada masa orde baru, pintu ruko di kawasan Malioboro didorong ke belakang untuk para pedagang kaki lima. Saat ini kita masih bisa menikmatinya, berjalan di lorong panjang, sesekali menengok barang-barang dengan harga terjangkau, atau oleh-oleh unik khas Jogja.

Kak Erwin dan potret hitam putih masa lalu

 

Bangunan yang masih berdiri

Sesekali saya memotret dengan kamera handphone ketika senja menjelang. Ketika itu pula kami sampai di depan sebuah toko roti yang masih bertahan sampai sekarang. Toko Djoen, dengan menu andalan roti buaya. Hm, saya sih belum pernah mencobanya. Hehehe. Mungkin suatu saat kita mau mencoba?

Toko Djoen

 

***

 
Melanjutkan perjalanan, kali ini ditemani alunan musik yang tahun-tahun terakhir semakin marak di sudut-sudut kota. Beberapa menari saat biru sudah mulai lenyap, saya menyebutnya, menari saat senja. Namun kami tetap melangkahkan kaki menuju Malioboro Mall. Sebuah mall heritage karena selain mall paling tua, juga menghancurkan beberapa bangunan tua seperti gereja dan rumah sakit paru-paru.

Unsur Yogyakarta, partikel rindu~

Berhadapan dengan Malioboro Mall, berdiri sebuah gedung yang masih tersisa fasadnya. Gedung Kimia Farma, dulunya adalah apotek rathkam milik pemerintah  Belanda. Tentu saja, yang boleh berobat di sini hanya orang-orang Eropa. Karena alasan uang, maka pribumi berobat di toko obat Tionghoa. Salah satu yang masih beroperasi adalah toko obat Enteng.

Malioboro saat malam

 

Apotek Julianna

Menapaki pedestrian Malioboro dengan segala kisah masa lalunya membuat saya lupa waktu. Kami tiba di depan Hotel Inna Garuda saat langit Malioboro mulai gelap. Sedangkan Kak Erwin masih melanjutkan kisahnya. Yang saya ingat, hanya gedung indomart yang dulunya Apotek Julianna dan Batik Borobudur yang masih utuh. Sedangkan Jogja Library Center, dulunya adalah Kolff Bunning, percetakan Belanda yang mencetak kartu pos.

 

Hm, ternyata jarak Jalan Malioboro sampai Jalan Pangurakan yang hanya menghabiskan beberapa menit ketika berkendara ini, menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah kehidupan dan perjuangan. Agresi militer, pernah berdirinya sebuah showroom mobil mercedes benz dan butik milik orang Perancis menandakan, Malioboro sudah melek mode sejak zaman dahulu. Walaupun keduanya ditemukan di sebuah surat kabar dan belum ditemukan ciri-ciri bangunan fisiknya saat ini, setidaknya Malioboro sekarang adalah cerminan malioboro masa lampau. Hiruk pikuk wisatawan dan aktivitas perdagangan, juga seni budaya. Terkadang sesak, tetapi memperhatikannya menjadi sebuah romantisme tersendiri, terlebih saat malam.

 
Hari itu saya menutup perjalanan menghabiskan sore yang kesorean dengan kembali menyusuri pedestrian ke titik nol kilometer, menuju tempat parkir. Saya mampir ke koling, sebuah kedai kopi keliling yang teramat saya sukai yang kebetulan sudah nongkrong di depan Malioboro Mall. Memesan greentea latte dingin seperti biasa, dengan ekspektasi melepas dahaga dengan dinginnya, dan sejuk rasa greentea untuk melepas lelah setelah bermalioberen. Sore yang luar biasa!


26 respons untuk ‘Malioberen, Ketika Langkah Kaki Mendadak Romantis

  1. Luar biasaaa bisa ditulis, dirangkum secara apik. Aku mana bisa nulis perjalanan bermalioberen sore itu. Mataku malah piknik ke mana-mana. Meskipun pakai toa, suara mas erwin kadang ga terdengar karena hiruk pikuk malioboro, apalagi sempat disela hujan.

    Titik nol sampai inna garuda ga terasa jika jalannya sambil didongengin begitu. Baru tau juga rumah-rumah di sepanjang malioboro yg masih asli juga yang masih mengalami pemugaran. Apotek (toko obat) yg dimiliki etnis tertentu kala itu juga mengganti namanya ala pribumi kala orde baru sedang gencar melarang nama-nama tertentu yg berbau ****.

    Aku kok malah posting blog di komentar yak. Seruuu sih!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hehehe Mbak. Kita bermalioberen di waktu yang berbeda ya :’) tetap romantis kan? Kan Mbak sama dia*eh :’)

      Iya, sejak orde baru banyak yang berubah, bangunannya juga. Rini juga baru tau hahaha. Mesti banyak baca baca lagi atau ikut lagi.

      Seru banget emang Mbak. Dan aku bersyukur banget kesampaian ikut ini. Inget kan udah lama aku pengen :’)

      Suka

  2. Waw, ga nyangka malioboro yang biasanya banyak orang lalu lalang berbelanja oleh2, ternyata menyimpan segini banyak cerita.

    Tapi, bagaimanapun waktu yg terus berputar menorehkan cerita2 yang akan mengiringi hidup manusia. Tinggal kitanya saja yg mau mengabadikan cerita tsb, untuk diceritakan kembali di masa yg akan datang 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya, segini belum sama cerita cerita soal kenangan masing masing pengunjung. Heh apaan 🙈

      Yaps, masa lalu masa lalu malioboro itu tetap bagian dari kita saat ini. Batas batas kekuasaan Belanda, eksisnya toko-toko, tetep jadi bagian kita saat ini. Juga, kawasan pedestriannya yang sekarang memang dikembalikan seperti semula.

      Suka

    1. Hahaha iya, Mas Gallant. Yang komunitas remason eh freemason itu ya, di loji setan. Rini nggak terlalu paham jadi malah bingung, nggak ku tulis 🙈🙈

      Ayo ikut lagi.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Oh sama Mbak Dwi ya. Iya tau. Waktu itu Mbak Dwi cerita kalau ikut malioberen, jadi waktu aku ikut, Mbak Dwi nggak ikutan lagi. Heheh

        Waa kalau pas hujan rintik-rintik pasti beda lagi rasanya ya😂

        Baiklah 😊

        Disukai oleh 1 orang

  3. Salah satu yg paling membuat rindu dr jogja adalah marlioboronyaa mbaaak. Banyaak kenangan manis sejak kecil sering muter marlioboro kalau diajak ayah sama ibu study tour. Menikmati malam sembari ngobrol sama abang tukang becak disepanjang jalan. Hehehe

    Suka

  4. Selama ini jika ke Malioboro hanya sekedar berbelanja dan lewat begitu saja tanpa mengetahui cerita masa lalunya :D. Beberapa tempat di malioboro seakan tersamar dengan keramaiannya seperti kantor DPR dengan patung di depannya, entah itu patung jenderal Sudirman atau pangeran Diponegoro saya sering salah dengan kedua tokoh itu….membaca tulisan ini menambah kekaguman saya terhadap sosok Romo Mangun Wijoyo PR. Bukan sebagai rohaniawan tp sebagai sosok yang humanis dan peduli terhadap masyarakat bawah..

    Suka

    1. Kapan-kapan ikut yuk 😂

      Oh iya itu patung Jendral Sudirman.

      Saya juga, beliau sangat memperhatikan lapisan masyarakat menengah ke bawah. Patut dicontoh.

      Suka

      1. Cukup sering mas. Setiap sabtu sore. Ada juga sih event lain, banyak. Biasanya daftar dulu di @malamuseum IG nya.

        Selamat mencoba 🙂

        Suka

    1. Mungkin pertanyaannya bisa diubah, kenapa dari dulu bangunan bank itu selalu begitu. Megah dan unik.
      Soalnya bank yang sekarang biasanya ya ngikut pendahulunya. Dulu jadi bank, ya sekarang jadi bank juga.

      Sementara untuk BNI yang dulunya menempati kantor radio, ya mungkin daripada nganggur dan mangkrak. wkwkwk.

      Suka

  5. Wah, seru banget ya Mbak Rini 😀
    Saya sempat merasakan bermalioberen di sana dalam waktu kurang dari 24 jam.
    Waktu itu sekalian jalan yang ke Semarang, liburanny macam dirapel, Semarang – Jogja diborong langsung.

    Yang paling berkesan buatku itu pas lagi ada kroncongan di tengah jalan. Ah senengnya ada di sana ga bisa disampein lewat kata2 😁

    Makasih udah share caritanya di blog Mbak, ini bermanfaat banget buat saya yg waktu itu keliling cuma belom tau gimana sejarah jelasnya.

    Kapan2 semoga bisa bermalioberen bareng ya Mbak 😊

    Suka

    1. Hai Mbak, hehehe terima kasih sudah mampir.
      Ah ya, kalau dirapel, lumayan deket sih ya Jogja Semarang.
      Iyaa banyak musik musik yang dinikmati di sepanjang jalan ini.
      Iyaaa, semoga bisa bermalioberen bareng, boleh kasih tau saya kalau Mbak mau ke Jogja 🙂

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s