Koling dan Harmonisnya Pasar Semawis

Hari-hari di bulan April segera berakhir. Malam di Semarang terasa dingin. Tetapi karena akhir pekan, jadi mereka memenuhi bangku-bangku Taman Srigunting bersama keluarga, bercanda, berfoto dan menghabiskan jagung bakar. Sayapun memilih bangku yang masih kosong untuk menikmati malam tak biasa di kota Lunpia ini.

Tidak ada setengah jam, saya terpikir untuk mencari sesuatu di Pasar Semawis. Melewati lorong-lorong Kota Lama yang masih ramai pengunjung, saya menuju kawasan Pecinan. Menyusuri ruko-ruko lantai dua khas Tionghoa, menemukan banyak klenteng di setiap gang.

20170423_194211
Pecinan Semarang
20170423_115841
Klenteng Tay Kak Sie di siang hari

Saya menerobos orang-orang yang berburu kuliner malam itu. Menyusuri lorong panjang Gang Warung dengan aroma makanan yang menggoda. Berjalan di antara ruko-ruko tinggi membuat suasana berbeda dari pasar malam yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Kanan kiri saya, pedagang sangat beragam, tidak hanya satu etnis saja mengingat pasar ini ada di area Pecinan. Di balik kepulan asap makanan yang sedang mereka olah, konsumen riang ingin segera mencicipi kudapan yang ia pesan. Pedagang dan konsumen yang beragam, melihat harmonisasi dan semangat pasar malam ini, menimbulkan perasaan kagum tersendiri.

Tidak hanya pelaku pasar yang beragam, makanan yang ditawarkan juga mulai dari makanan lokal hingga luar negeri. Saya sempat memperhatikan beberapa stand yang menjual soto semarang, sate ayam, gudeg jogja, takoyaki, nasi hainam, aneka olahan babi, cumi dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya saya menemukan koling, sebuah kedai kopi keliling yang sedari tadi saya cari.

20170423_193955
Nostalgia sambil ngoling

Jika biasanya di Jogja saya mencari koling ke Malioboro atau alun-alun selatan, orang biasa menyebutnya alkid, kali ini saya mencari koling ke Pasar Semawis Semarang. Dan yeay! Akhirnya kesampaian juga menghabiskan waktu buat menunggu minuman pesanan di depan gerobak koling yang khas di kota lain. Artinya, saya kesampaian ngoling di Semarang!

Sama seperti di Jogja, Koling Semarang khas dengan gerobak kecil dengan berbagai alat kopi tertata rapi. Atap membentuk seperti atap joglo khas rumah Jawa Tengah-an. Merekapun berdiri di deretan penjaja kuliner lain di bawah temaram lampu Gang Warung malam itu. Aroma kopi semerbak, menarik perhatian siapa saja yang lewat di depannya. Menawarkan menu espresso, cappucino, blend susu dan greentea, menjadikan koling satu-satunya kedai kopi di Pasar Semawis.

Seperti biasa saya memesan greentea latte, sementara teman saya memesan cappucino. Brewer, yang biasanya disebut dengan mas koling sudah sibuk menyeduh sedari tadi. Yang satu memanasi air, yang satu sedang menyeduh pesanan orang sebelum kami.

Sementara menunggu, saya memandang sekeliling. Semakin malam, pengunjung semakin banyak berdatangan. Memenuhi meja kursi yang memang disediakan untuk mereka yang ingin menikmati makan malam di Pasar Semawis. Sampai akhirnya pesanan kami datang, lanjut berjalan ke ujung gang sambil menikmati greentea latte dingin yang diracik sempurna.

Saya sampai di gerombolan beberapa orang yang sedang asyik bernyanyi. Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai keramaian. Tetapi malam itu, saya mendengarkan baik-baik lantunan lagu-lagu berbahasa mandarin yang dinyanyikan beberapa warga tionghoa yang mungkin untuk menghibur pengunjung. Atau memang sudah menjadi tradisi mereka yang memiliki kesukaan berkaraoke. Bisa jadi, lagu-lagu tersebut menjadi daya tarik khusus untuk pengunjung selain kuliner.

IMG_20170610_180533_375
Menyusuri Gang Warung

Tidak hanya menemukan koling, di Pasar Semawis saya menemukan pasar yang tidak sebatas pasar. Pasar kreatif yang tidak hanya memiliki unsur ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Bisa jadi Pasar Semawis menjadi daya tarik wisata jajanan kaki lima yang harmonis dan nyata keberadaannya.

Iklan

13 respons untuk β€˜Koling dan Harmonisnya Pasar Semawis’

    1. aku kira kolang-kaling mbak ckkkkk,,,,,,
      biasa kalo malam aq suka beli ronde, secang gt kalo pas jalan-jalan di pasar, kayak di pasar gede, atau di kawasan malioboro , soale tiap hari sudah minum kopi πŸ˜€

      hmmm….tempat jualannya lumayan becek ya

      Suka

  1. Waaa sepertinya romantis di tengah aspal jalanan aspal basah begitu sih, di bawah pendar lampu jalanan. Itu saya atau kami yak? :p
    Kamu sampai Semarang juga yang dicari koling :p

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s