Menuju ke Utara, Mencari Pasar Tiban Nitiprayan

Bagi warga Kulon Progo seperti saya, terkadang menghabiskan sore di kota Jogja malah menjadi hal yang melelahkan. Bertarung dengan deru mesin mobil, bising klakson bus kota, belum lagi becak motor yang tentu saja ikut mengantri dan segera ingin melaju ketika traffic light baru saja berganti hijau. Maklum, semua segera ingin pulang berkumpul dengan keluarga, atau bahkan, melanjutkan mencari nafkah. Mencari penumpang sebanyak-banyaknya.

Berbeda dengan minggu sore kemarin. Selepas pergi ke sebuah perumahan di perbukitan Guwosari, Bantul untuk suatu urusan, saya tidak langsung pulang ngulon. Awalnya saya hanya mengendarai sepeda motor tak tahu arah. Hanya menikmati perjalanan di antara hutan jati dan tumbuhan lainnya di daerah Pajangan dan Guwosari yang memang masih asri. Walaupun mulai banyak perumahan dibangun, tetapi suasana perbukitan sebelah utara Bantul ini masih dan semoga akan terus sejuk seperti sekarang.

Barangkali, sore itu mengantarkan saya pada suatu tempat yang baik untuk didatangi dan diceritakan. Barangkali. Jadi dari Guwosari, saya terus melaju ke utara, ke arah kota. Tetapi, sampai Ringroad Selatan, saya mblusuk melalui jalan aspal kecil, tidak memilih arah yang jalan aspal besar. Berhenti di sebuah pertigaan, saya mulai mencari lokasi Pasar Tiban Nitiprayan.

Saya menelusuri sepanjang liku Jalan Nitiprayan yang memang baru pertama kalinya. Masih banyak persawahan dan rimbun pepohonan walaupun area Nitiprayan sudah berada di dalam ring road. Jika didengarpun, Nitiprayan terkesan sebagai nama daerah yang unik dan filosofis. Saya suka sejak pertama kali membacanya di google maps beberapa tahun lalu. Ketika alat komunikasi saya sudah bisa untuk melihat-lihat peta melalui google maps. Lalu saya tertarik untuk melewatinya barang sejenak. Tetapi berhubung jarak dan waktu yang belum berjodoh, akhirnya baru kemarin saya berkesempatan mengunjunginya.

Sebelum sampai ke tempat tujuan, saya menemui banyak hal. Saya sempat berhenti sebentar di pinggir sawah dan menemukan dua hal. Pertama, dua orang simbah yang sedang beristirahat setelah tandur di sawah, meminum teh dengan cangkir besi klasik. Potret kehidupan kota yang jarang terlihat dan ini unik. Kedua, beberapa motor dan mobil yang melewati Jalan Nitiprayan dikendarai oleh bule, pria maupun wanita yang terlihat hafal sekali liku-liku Nitiprayan.

Saya orang Jogja asli yang seharusnya tahu banyak tentang Jogja. Tetapi di sini, saya merasa Jogja sendiri terlalu banyak tempat, suasana dan rasa yang harus didatangi dan dinikmati untuk ukuran saya. Bagi saya, Jogja tidak akan ada habisnya. Nitiprayan sendiri membuktikan, bahwa selalu ada suasana baru yang Jogja tawarkan bahkan untuk penduduk aslinya. Sedih.

IMG_20170705_215656_337
Salah satu ruang di Nitiprayan

Nitiprayan, sejauh yang saya tahu masih berada di area Bantul tetapi masuk di dalam ring road. Itu berarti, akan ada yang menganggapnya pinggiran. Tetapi siapa yang menyangka, Nitiprayan mempunyai ruang di hati sekaligus menyediakan ruang tersendiri bagi para seniman kondang. Beberapa art space berskala internasional dan ruang-ruang kegiatan kreatif berdiri dan dikunjungi oleh tamu-tamu yang tidak hanya dari dalam negeri.

Seperti yang saya baca di rubrik travel nationalgeographic.com, sebelumnya Nitiprayan tak lebih dari desa petani. Namun peran seniman Ong Hari Wahyu yang tinggal di Nitiprayan sejak 1979, menciptakan terobosan dengan berbagai kegiatan seni hingga bertransformasi seperti sekarang ini. Kini, saya sedikit paham, mengapa Nitiprayan terdengar menarik. Di sini akan terlihat kolaborasi alam dan seni yang damai dan terkesan romantis.

IMG_20170705_214140_797
Jika menemui plang ini, mampirlah sejenak

Hm, sore itu, sebelum kesorean saya melanjutkan perjalanan. Tidak lama, tempat yang saya cari terlihat di sebelah kiri jalan, dengan petunjuk sebuah papan kayu berwarna kuning bertuliskan 110. Saya memarkir sepeda motor lalu segera masuk ke dalam pintu gerbang kayu berwarna coklat tua. Beberapa orang terlihat di balik pohon pisang berdiskusi, sesekali tertawa. Tanah berkerikil dibiarkan begitu saja, tidak berpaving block dan tentu saja kesan klasik membuat suasana semakin menyenangkan.

Sebenarnya, saya sudah melihat ketika masih berada area parkir, hanya tinggal 2 lapak saja yang masih menggelar dagangannya. Satu lapak sabun, satu lagi barang-barang antik dan beberapa baju bekas. Sudah sepi, tidak seperti yang saya bayangkan. Hm, sedikit kecewa tetapi terbayar dengan suasana sekitar sejak tadi.

IMG_20170705_214252_190
Suasana hangat

“Halo, yah temen-temen kita sudah pada balik tadi yang jualan, masih pada libur lebaran juga, dari mana ini, Mbak?” Begitu sapa hangat seorang dari gerombolan di balik pohon pisang tadi. Jujur, saya yang agak susah bicara dan konsentrasi ketika bersama orang baru apalagi suasana baru, membuat saya jadi lupa namanya. Cantik, berbaju hitam, berkacamata, ramah, seperti itulah kira-kira.

Saya menjawabnya singkat. Sambil memperhatikan sekitar. Beberapa orang sedang menikmati makanan yang disajikan oleh Warung Kita, karena pasar tiban ini memang berada satu area dengan sebuah kedai makanan organik Warung Kita. Saya mendengarkan cerita si Mbak dan mengikuti langkahnya. Diperkenalkan dengan salah satu produsen dan penjual sabun alami. Juga, ajakan untuk datang lagi ketika lapak sudah lengkap dan jika beruntung, sesekali akan ada live acoustic yang akan menemani para “tetangga”.

IMG_20170705_214423_881
Salah satu lapak yang masih tersisa

Iya, tetangga. Karena Pasar Tiban Nitiprayan ini mempunyai konsep mari perkaya teman dan tetangga. Uniknya, pasar tiban yang digelar setiap minggu pertama dan minggu ketiga setiap bulannya ini, boleh ditawar dan boleh barter. Barang apa saja bisa dijual di lapak yang sengaja digelar begitu saja di alam terbuka Nitiprayan dari jam 12:00 siang sampai menjelang maghrib. Barang antik, sepatu bekas, baju baru maupun bekas, aksesoris, makanan, minuman, sabun, hasil kebun, dan semua yang bisa dibeli dan ditukar. Bahkan, pengunjung bisa menggunakan jasa potong rambut di alam terbuka nan sejuk. Seperti yang diceritakan tadi, sesekali juga akan ada live acoustic menemani mereka yang berbelanja, atau sekedar menikmati suasana.

IMG_20170705_214754_389
Suasana yang menyenangkan jika diperhatikan~

Sambutan hangat, ramah para penghuni, suasana Nitiprayan yang sejuk dan asri, barangkali menjadi alasan untuk kembali menengok Pasar Tiban Nitiprayan lagi. Tidak hanya menjadi ruang berkumpulnya orang-orang aktif dan kreatif di bidangnya, tetapi juga memberikan energi positif bagi siapa saja yang singgah. Tidak hanya tentang berbelanja, tetapi juga berkolaborasi dan berbagi. Tidak hanya tentang mencari barang yang kita inginkan, tetapi barangkali menemukan barang yang kita butuhkan. Pasar Tiban Nitiprayan, bisa saja menjadi tempat menghabiskan sore yang baik.

Semoga, segera berjumpa lagi dengan Pasar Tiban Nitiprayan bersama kalian!


15 respons untuk ‘Menuju ke Utara, Mencari Pasar Tiban Nitiprayan

    1. Barang antik, bekas, baru, potong rambut, makanan indonesia, makanan luar, aksesoris, sabun, minuman, kalau beruntung apa apa ada mas. Malah sering bule yang datang 🙈

      Haha yup bener. Sepulang dari sana, aku bener bener merasa, bukan asli Jogja. 😂😂

      Disukai oleh 1 orang

  1. Tulisanmu makin detil mbak, dan mengalir indah. Aku menikmati membaca tulisan ini. Seakan sedang menikmati suasana jogja yg asing bagi warganya sendiri.

    Lalu Nitiprayan aku baru denger ini. Memang sejak kapan psar ini ada? Pasar yg lahir dr kekreatifan orang jogja yg sudah tidak diragukan lagi 😁

    Suka

    1. Heem. Masing terlalu merasa asing di kota sendiri. Apalagi di kota orang. Ilang ilang deh wkwk

      Saya nggak tahu pastinya kak. Mengikutinya baru sejak 2016 lalu.

      Suka

  2. kalo ke pasar tiban kayak gini paling suka hunting jam-jam kuno mbak….tapi saya lihat kog g ada dagangan jam ya….apa blm lengkap hihihi…itu pisang panjang banget 😀 tuntute doble….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s