Nglarak Blarak

Semilir angin berhembus ringan di Banaran, melambaikan nyiur yang berjejer rapi, menjulang tinggi. Terik matahari dan debu halus akibat musim kemarau melawan siapa saja yang tengah berjalan atau berkendara di ruas Jalan Trisik, satu-satunya akses yang mudah dijangkau untuk menuju batas selatan Kecamatan Galur. Di sisi lain, pemandangan hamparan sawah yang subur, luas sejauh mata memandang.

Berbeda dari hari-hari biasanya ketika akan menggarap sawah, siang itu Mbah To menyiapkan sepeda onta kesayangannya. Kali ini tanpa membawa arit dan pacul, hanya mengenakan caping untuk sedikit melindungi terik matahari nantinya. Bergegaslah Mbah To menuju tanah lapang Desa Banaran, yang memang tidak jauh dari rumahnya.

“Kring kring”
Monggo sareng kemawon, Mbah
Suara Mbah Priyo membuat Mbah To segera menoleh ke samping. Maka dari pertigaan Kalibuntung, Mbah To dan Mbah Priyo bersama-sama melawan arah angin menuju ke tanah lapang.

Seluruh masyarakat sudah bertumpah ruah di tanah lapang, atau biasa disebut lapangan, ketika Mbah To dan Mbah Priyo tiba. Bergegaslah mereka mendapati kerumunan warga. Rupanya, pertunjukan langka Nglarak Blarak berhasil membuat Mbah To kembali mengingat masa kecilnya, sehingga siang bolong Mbah To menyempatkan diri untuk menyaksikannya. Senyum dan semangat Mbah To, tak kalah dengan para pemain yang tak peduli terik dan debu berhamburan. Begitu juga warga Kecamatan Galur yang berbondong-bondong ingin menyaksikan festival tersebut.

IMG-20170812-WA0036
Pembukaan Festival Nglarak Blarak. Foto: Mas Aji

Festival Nglarak Blarak sendiri, merupakan satu di antara deretan kekayaan khasanah budaya di Kulon Progo. Sejarah lahirnya Nglarak Blarak, ketika olah raga tradisional ini pernah perkiprah di kancah nasional dan menjadi nominator terbaik. Melalui olah raga Nglarak Blarak, selain memperkuat persatuan dan kerja sama antar angkatan muda, juga turut serta dalam melestarikan budaya asli Kulon Progo.

IMG-20170814-WA0049
Membuat jaran blarak dari pelepah daun kelapa. Foto: Mas Aji

Berbekal semangat yang tinggi dalam balutan kostum tradisional, para pejuang Nglarak Blarak antusias mempersiapkan diri. Riuh teriakan penonton semakin membuat mereka berkobar, tak peduli terik menyengat, angin kencang yang sesekali menerpa. Sementara di dalam area, dua kelompok bersalaman, seorang Den Mas (wasit) dibantu Demang Ijo dan Demang Kuning Gading sigap memperhatikan pertandingan.

“Prittttt”

Peluit tanda dimulainya babak terdengar panjang disusul sorakan penonton. Seorang peserta putri menggelindingkan tomblok (keranjang rumput yang terbuat dari bambu) dengan tergesa, tak ingin membutuhkan waktu lebih lama dari lawannya. Setelah sampai di titik tengah, segeralah ia menggendong tomblok, merobohkan sepet (kulit kelapa) dengan stik pelepah daun kelapa pula. Dengan tergesa, mereka melanjutkan melempar sepet tanpa disentuh tangan sedikitpun ke arah timnya. Dengan sigap, sepet diterima, segera melanjutkan dengan cara lompat katak ke arah joki.

IMG-20170814-WA0041
Menggelindingkan tomblok.  Foto: Mas Aji

“Wuah lincah tenan nggih le mlumpat, Mbah.”
Di sela-sela pertandingan, Mbah To membuka pembicaraan kepada Mbah Priyo. Namun, suaranya terlalu kecil oleh teriakan penonton, juga dendang gamelan sebagai iringan pertandingan.
Tanpa disadari, merekapun hanya manggut-manggut bersama. Pertandingan terus berjalan, hingga jaran blarak, sebutan untuk rangkaian kuda dari pelepah daun kelapa dinaiki oleh seorang joki untuk memperebutkan bumbung. Bumbung sendiri terbuat dari batang bambu yang dipotong pendek, menyerupai kentongan.

IMG-20170814-WA0031
Bekerja sama.  Foto: Mas Aji
IMG-20170814-WA0040
Memperebutkan bumbung di depan Den Mas.  Foto: Mas Aji
IMG-20170814-WA0052
Semangat. Foto: Mas Aji

Ada empat bumbung yang diperebutkan dalam satu babak, dan menjadi detik-detik sengit nan menegangkan. Para penarik jaran blarak yang terdiri dari tiga orang laki-laki berlari sekuat tenaga, menyapu semua rute yang harus dilewati agar joki mendapatkan hasil bumbung terbanyak. Debupun berhamburan, namun tak mereka hiraukan. Hingga beberapa detik setelahnya, sorak gembira kembali menggema setelah tim dari Desa Kranggan berhasil mendapat bumbung terbanyak.

IMG-20170814-WA0034
Gembira.  Foto: Mas Aji

Nglarak Blarak di siang yang terik itu berakhir dengan sorak sorai penonton dan gamelan yang tak mau kalah. Siang itu juga, sebagai suatu hari di mana Nglarak Blarak mengingatkan kembali bahwa olah raga permainan ini merupakan kekayaan budaya Kulon Progo yang perlu dilestarikan.

Iklan

4 respons untuk ‘Nglarak Blarak

  1. Waa lagi ngerti begini jalannya nglarak blarak tangannya musti pake sarung tangan ituu yang pegangan blarak :p ndak tlusupan wkkwk
    Terus kostumnya pake surjan, pakaian tradisional begitu rin? biasanya dilakukan pas momen apakah?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s