Kotagede, Jeda yang Tak Pernah Benar-benar Jauh

Di kotamu, pada pagi buta mengingatkanku akan seberapa sering dua pasang telapak kaki berjalan beriringan. Entah hanya sekadar menikmati gerimis sabtu pagi, atau mencari kue-kue tradisional kesukaanmu. Atau bahkan, mengitari sudut-sudut kampung hingga berakhir di Masjid Gedhe. Kelak, kau akan mengerti untuk apa aku melakukan hal membosankan ini, katamu padaku yang memang tak pernah paham.

IMG_20180214_150907_683

Pagi itu, ku susuri himpitan dua tembok panjang Kampung Sayangan. Masih seperti dulu, hanya saja rumput liar yang sengaja ditanam di tembok dengan pintu tua itu semakin rimbun. Tentunya semakin menambah keunikan lorong menuju Masjid Gedhe dari arah utara itu.

Menepi di Masjid Gedhe Mataram, di bawah naungan langit biru dan rimbun daun sawo kecik. Sawo kecik, yang katamu bermakna sarwo becik, semua tentang kebaikan. Yang juga selalu kau selipkan saat kita memutuskan keluar untuk sekedar menikmati udara sore di tempat biasa, kebaikan, kebaikan dan kebaikan.

IMG_20180220_202833_153

Dibangun masa pemerintahan Sultan Agung di Kerajaan Mataram, perpaduan limasan pada bangunan utama, paduraksa pada bagian luar, yang katamu menghargai masyarakat Hindhu Budha yang turut dalam pembangunan.

Kuhirup dalam-dalam udara sejuk pagi itu, mencari-cari apa yang membuatmu betah berlama-lama di sini. Dan ya, seperti sebuah jeda yang terasa hangat di sejuknya udara pagi. Melepas penat setelah berhari-hari bergelut dengan rutinitas dan perjalanan menjemukan.

Tiba-tiba seorang nenek mendekat, menyapa hangat dengan senyum lebar.
“Nenggo sinten?”.
Nada pada kata “sinten” berbeda dari yang kuucap atau kudengar biasanya.
“Mboten nenggo sinten-sinten, Mbah.” Lalu tiba-tiba percakapan sampai pada kue-kue tradisional di Pasar Kotagede, kesukaanmu.

IMG_20180211_183810_999

Bergegaslah aku menuju pasar yang pagi itu masih sepi. Pasar yang konon merupakan pasar tradisional tertua di Yogyakarta, kotamu. Mencari-cari apa yang sudah disarankan nenek tadi dengan segala cerita akan keunikannya. Seperti legomoro, kudapan berbahan ketan dengan isian ayam yang dibalut dengan daun pisang. Legomoro berarti lego dan moro, artinya jika seseorang beranjak atau datang ke suatu tempat, harus didasari dengan rasa ikhlas dan lega. Maka, tak jarang jika pada suatu hajatan, kudapan ini dibawa oleh pihak laki-laki ke pihak perempuan.

IMG_20180210_102233_513

Beruntung, aku juga berkesempatan mencicipi jadah manten. Lebih unik dan detail lagi dengan balutan setangkai jepitan bambu dan dikunci dua buah buncis yang dipotong kecil-kecil. Mungkin, cuma di sinilah aku bisa menjumpai segala kue-kue unik yang dibuat sedemikian detail oleh mereka yang masih berdedikasi akan daerahnya. Juga, hal-hal tentangmu yang nyatanya, tak pernah benar-benar jauh.

 

 

Iklan

15 respons untuk β€˜Kotagede, Jeda yang Tak Pernah Benar-benar Jauh’

  1. Harusnya jawab pertanyaannya si embah: nenggo jodoh mbaahhh :))
    ntar lak diaamiinkan sama beliau.
    Kalau aku, Pasar Kotagede itu juga tentang dawet yang berisi beraneka: tape ketan, tape singkong, cincau hitam, dawet, dan es gosrok

    Kotagede adalah secuil cinta πŸ™‚

    Suka

    1. Haha boleh diagendakan, Mas galau travelerπŸ˜‚ kalau lebih detail, nggandeng eh ngajak @jooggoodguide, Mas. Tapi aku sendiri masih wacana sejauh ini. Sendiri baru sempet ke yang dekat-dekat pasar aja.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s