Dieng dan Kita

Dieng, kedua kalinya saya melangkahkan kaki ke negeri yang selalu menakjubkan ini. Setelah September 2015 lalu, saya mendaki Gunung Prau dengan sapaan hangatnya, pun hari ini, tetap hangat walau ia semakin dingin. Mengingat kemarau kali ini membuat Dieng dan sekitarnya, termasuk Jogja, menjadi sangat dingin bahkan ditemukan serbuk es layaknya salju. Tetapi entah, negeri berbukit-bukit ini selalu menyiratkan rasa ingin kembali bagi siapa saja yang singgah. Pun bagi saya,ia menciptakan semacam cerita-cerita yang mampu membuat tersenyum, seperti Dieng dan kita πŸ™‚

Ladang kentang dan masjid

Kami berlima, menembus dinginnya malam menuju Desa Sembungan, sebuah desa pemilik puncak Sikunir dan golden sunrisenya. Ah ya mereka, yang saya kenal sekitar sembilan bulan lalu dan menjadi partner sehari-hari. Yang saya temui ketika pagi, setiap lima hari dalam seminggu ketika harus membelah persawahan Kranggan – Temon via Jalan Daendels. Mereka, tempat belajar dan jembatan bertemu orang-orang baru, mereka-mereka yang lain.

Hamparan nan hijau

Loano, Kepil, Kertek, Patak Beteng, ternyata sudah kami lewatkan sepagi ini. Sementara ketika kami merasa hawa sedang dingin-dinginnya, sebuah tulisan Desa Sembungan lengkap dengan ladang di kanan kirinya memaksa kami turun untuk beradaptasi dengan sekitar. Dan, Dieng kali ini lebih dingin dari tiga tahun lalu. Beruntung pesanan satu cup pop mie yang juga cepat mendingin segera datang. Kami menikmati sembari melihat lalu lalang pengunjung yang semakin banyak berdatangan.

Perjalanan ke puncak Sikunir lebih bersahabat, karena memang Sikunir lebih dikenal untuk berwisata. Walaupun pemandangan alam dan sunrise yang ditawarkan tidak kalah menarik jika dibanding dengan perjalanan ke puncak Gunung Prau. Bahkan, Sikunir sendiri memiliki daya tarik tinggi sampai seantero negeri bahkan warga asing: golden sunrise. Lebih banyak rute berpaving block untuk pejalan, dan mushola kecil menanti di puncak untuk mereka yang ingin menanti fajar tiba di desa tertinggi di Pulau Jawa ini. Tetapi bagaimanapun juga Gunung Prau dan Sikunir tetaplah sama, memiliki cerita-cerita dan bentang alam Dieng yang luar biasa.

Sisa-sisa serbuk es

Dini hari, dingin yang menusuk, dan pijakan telapak kaki-kaki kami mulai meniti setiap tangga menuju puncak. Sesekali pengunjung lain melangkah lebih cepat, barangkali ingin segera melihat indahnya kerlipan lampu kota sebelum matahari membuat langit menjadi terang. Satu lagi, taburan bintang-bintang ketika sesekali saya melihat ke atas.

Sebuah kesyukuran datang bersama angin malam bukit Sikunir ini, ketika teringat perjalanan ke puncak gunung Sumbing tiga tahun lalu. Beruntung pernah diberi kesempatan melihat indahnya lukisan Tuhan yang begitu luas, beragam, dan sekali lagi indah. Antara rindu menjejakkan kaki ke jalur-jalur licin dan berdebu, menanjak dan berat, berbatu dan sangat panjang di sebelah jurang, canda tawa di antara hawa dingin malam di gunung, leganya ketika pos demi pos dilalui dan cerita-cerita lainnya.

Dan Sikunir, mampu mengobati rindu jejak itu. “Sikunir ini cukup,” batin saya. Ya, karena memang rindu bukan berarti ingin kembali itu juga berlaku untuk Gunung Sumbing. Hanya, rindu Gunung Sumbing mungkin sebagai salah satu cara mensyukuri apa yang sudah, akan pengalaman, perjalanan, kerjasama dan jerih payah untuk menuju puncak yang lelahnya akan terbayar lebih dari yang saya bayangkan.

Memori Sumbing seketika terhenti, ketika salah satu dari kami memulai bersuara. Hingga jadilah obrolan hangat tentang bintang-bintang, tentang impian-impian. Tentunya, impian disambut hangatnya mentari pagi di puncak nanti. Agar paling tidak, dingin yang menusuk tulang ini segera pergi. Sikunir, juga salah satu cara kami memberi ruang istirahat dari letihnya pekerjaan sehari-hari, melepas penat, refleksi akan diri untuk melangkah setelah hari ini, setelah besok, selanjutnya.

Sepagi ini πŸ™‚

Kami tiba di puncak terlalu pagi. Hingga tidak ada aktivitas lagi selain melawan dingin yang menusuk tulang dan dengan leluasa menikmati kerlipan bintang di cakrawala dan lampu kota di bawah sana. Ah ya, mencuri-curi untuk tidur sebentar bagi saya yang lebih cepat mengantuk dan lebih cepat tidur ini :D. Hingga adzan subuh berkumandang nun jauh di sana, kami segera antri wudhu di mushola kecil dari bambu yang memang dibangun untuk siapa saja yang ingin menikmati pagi di sini.

Golden sunrise
Masih tetap sama

Alampun mulai menampakkan tanda-tanda akan segera terang. Segaris jingga terbentuk dari ujung bukit tempat saya duduk hingga ujung deretan gunung-gunung sekeliling yang masih tampak hitam. Perlahan, langit memerah, lalu membiru dalam rentang waktu yang sangat diperhitungkan olehNya. Puncaknya, mentari mulai menampakkan diri. Bulat, jingga keemasan, bahkan saya sulit mendeskripsikan warna mentari Dieng pagi itu. Tidak lupa, saya merekam dalam memori dan mengabadikan lewat kamera gawai kecil ini. Bersyukur, saya dipertemukan dengan Sikunir dengan suasana ini dan membuktikan sebutan itu: golden sunrise.

Di perjalanan turun

Langit nampak semakin cerah ketika kami memutuskan untuk turun. Cahaya pagi juga menyapa dari balik rimbunnya cemara di tengah perjalanan. Juga para pedagang aneka olahan kentang, bubur, nasi goreng dan teh hangat siap menerima perut-perut kami di bawah. Siapa saja akan istirahat sembari mencicipi makanan khas di Dieng ini.

Masih di perjalanan turun
Cahaya

Hingga sebelum perjalanan pulang ke Jogja, kami mampir ke sebuah rumah di Banjarnegara yang sangat terasa “Diengnya”. Kenapa? Karena kita dijamu dengan khasnya, dengan berbagai makanan enak, nasi dengan lauk pindang pedas, sayur daun pepaya/carica, sayur kobis, tahu tempe bacem legit dan tentu saja teh panas yang cepat mendingin. Layaknya orang Dieng, kami menikmati jamuan di depan penghangat disertai obrolan logat mereka yang khas. Akan terasa lebih menyenangkan memang, ketika kita berkunjung ke suatu tempat, dan berinteraksi langsung dengan warga sekitarnya.

Penjaja makanan di jalur turun
Kentang penunda lapar
Terima kasih jamuan seenak ini πŸ™‚
Penghangat tubuh ala warga Dieng

Saatnya meninggalkan Dieng untuk kembali ke Jogja dan mengumpulkan kekuatan untuk menerima kenyataan jika libur panjang segera usai. Sampai jumpa di kesempatan yang tak kalah menyenangkan, Dieng. Terima kasih kalian, untuk setiap detik luar biasanya πŸ™‚

Yeay!

Ditulis di:
– Perjalanan pulang Dieng – Kulon Progo setelah tidur sebentar di jalan
– Dilanjutkan di kamar ketika sedang malas-malasnya wkwk

Iklan

10 respons untuk β€˜Dieng dan Kita’

  1. Pas aku ngintip kemarin belum ada potonya ahahahak. Terus ngintip lagi eh udah ada.

    Bila esok lagi merindu, semoga kembali menjejak dengan gandengan eratnya. Dingin tak terasa, hingga hangat berlipat menyaksinya terbit. Berdua.

    Hei beruntung sekalii dapet momennya. Aku ke sana pas musim penghujan. Baru di tengah2 jalan hujan deres terus balik turun. Nyerah. Padahal pas itu ekspektasiku udah tinggi. Wkwk.

    Itu nggak pakai nginep Rin?
    Dari Jogja jam berapa?

    Suka

  2. Melihat foto-foto langsung kangen sunrise Sikunir. Tapi membayangkan ramenya yang kayak sekarang kok jadi males hihihihi. Btw saya masih penasaran dengan es di dieng, berkali-kali kesana dan nginep tapi sekalipun belum pernah dapat momen.

    Suka

  3. Dua kali ke Sikunir, belum pernah dapat golden sunrise seperti ini. Di atas kabut, pas turun cerah, kelihatan mataharinya. Kemudian naik Prau, kabut. Yang lumayan dapat cahaya pagi seperti ini pas di Telaga Dringo, Pekasiran, Batur. Tapi tetap saja, kenangan tentang Dieng itu ada di dingin dan kentangnya! πŸ˜€

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s