Dieng dan Kita

Dieng, kedua kalinya saya melangkahkan kaki ke negeri yang selalu menakjubkan ini. Setelah September 2015 lalu, saya mendaki Gunung Prau dengan sapaan hangatnya, pun hari ini, tetap hangat walau ia semakin dingin. Mengingat kemarau kali ini membuat Dieng dan sekitarnya, termasuk Jogja, menjadi sangat dingin bahkan ditemukan serbuk es layaknya salju. Tetapi entah, negeri berbukit-bukit … More Dieng dan Kita

Kotagede, Jeda yang Tak Pernah Benar-benar Jauh

Di kotamu, pada pagi buta mengingatkanku akan seberapa sering dua pasang telapak kaki berjalan beriringan. Entah hanya sekadar menikmati gerimis sabtu pagi, atau mencari kue-kue tradisional kesukaanmu. Atau bahkan, mengitari sudut-sudut kampung hingga berakhir di Masjid Gedhe. Kelak, kau akan mengerti untuk apa aku melakukan hal membosankan ini, katamu padaku yang memang tak pernah paham. … More Kotagede, Jeda yang Tak Pernah Benar-benar Jauh

Menelusuri Jejak Kejayaan Pabrik Gula Sewugalur

Beberapa malam ini Kulon Progo terasa dingin, bahkan terkadang hujan deras mengguyur menciptakan genangan-genangan. Seperti malam ini, sangat cocok untuk bermalas-malasan. Tapi dengan segala tekad dan niat (hahaha) saya ingin segera menyelesaikan draft yang sebenarnya sudah saya cicil sejak awal Oktober tahun lalu. Menyedihkan. Ini tentang blusukan saya waktu ikut teman-teman dari Komunitas Roemah Toea … More Menelusuri Jejak Kejayaan Pabrik Gula Sewugalur

Nglarak Blarak

Semilir angin berhembus ringan di Banaran, melambaikan nyiur yang berjejer rapi, menjulang tinggi. Terik matahari dan debu halus akibat musim kemarau melawan siapa saja yang tengah berjalan atau berkendara di ruas Jalan Trisik, satu-satunya akses yang mudah dijangkau untuk menuju batas selatan Kecamatan Galur. Di sisi lain, pemandangan hamparan sawah yang subur, luas sejauh mata … More Nglarak Blarak

Menuju ke Utara, Mencari Pasar Tiban Nitiprayan

Bagi warga Kulon Progo seperti saya, terkadang menghabiskan sore di kota Jogja malah menjadi hal yang melelahkan. Bertarung dengan deru mesin mobil, bising klakson bus kota, belum lagi becak motor yang tentu saja ikut mengantri dan segera ingin melaju ketika traffic light baru saja berganti hijau. Maklum, semua segera ingin pulang berkumpul dengan keluarga, atau … More Menuju ke Utara, Mencari Pasar Tiban Nitiprayan

Koling dan Harmonisnya Pasar Semawis

Hari-hari di bulan April segera berakhir. Malam di Semarang terasa dingin. Tetapi karena akhir pekan, jadi mereka memenuhi bangku-bangku Taman Srigunting bersama keluarga, bercanda, berfoto dan menghabiskan jagung bakar. Sayapun memilih bangku yang masih kosong untuk menikmati malam tak biasa di kota Lunpia ini. Tidak ada setengah jam, saya terpikir untuk mencari sesuatu di Pasar … More Koling dan Harmonisnya Pasar Semawis

Jejak Pagi di Kota Lama Semarang

Pagi yang berbeda menyapa di ruas Jalan Ronggowarsito kala itu. Jika biasanya bersepeda di rumah, saya menjumpai sekitar masih sepi, hanya embun-embun diujung tanaman padi atau hamparan sawah sejauh mata memandang. Di Jalan Ronggowarsito, hiruk pikuk truk-truk besar dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Mas tak bisa dihindari. Ya wajar saja, Semarang adalah kota besar. Lebih … More Jejak Pagi di Kota Lama Semarang

Tak Tahu Mau ke Mana dan Ingin Kembali

Bus berhenti ketika Pelukis Langit di playlist di handphone saya belum habis diputar. Seketika bapak kondektur mengingatkan kami, siapa saja yang akan turun. Seorang mas-mas di depan saya terburu-buru turun ketika ternyata dia nggak berhasil menjejalkan uang kertas di saku belakang jeansnya. “Jangan jalan ke mana-mana dulu, pokoknya tunggu di situ aja”. Begitu pesan WhatsApp … More Tak Tahu Mau ke Mana dan Ingin Kembali

Malioberen, Ketika Langkah Kaki Mendadak Romantis

Beberapa waktu lalu saya menghabiskan sore di kawasan Malioboro yang sedang ramai-ramainya. Selain sabtu sore, mungkin juga bertepatan dengan libur panjang. Dan Jogja, menjadi tujuan mereka yang sekedar ingin menepi, melepas lelah, maupun berbelanja apa saja. Aktivitas di kawasan Malioboro sendiri, muncul di sebuah surat kabar ┬áBelanda tahun 1940an, yang selanjutnya disebut Malioberen atau plesiran … More Malioberen, Ketika Langkah Kaki Mendadak Romantis

Mozaik-mozaik Kulon Progo dalam Bingkai Sederhana

Kulon Progo, tanah masa depan yang penuh harapan. Begitu judul sebuah tulisan anonim yang dicetak di selembar kertas merah. Ditempel di papan putih dengan beberapa testimoni dan tanda tangan, mungkin ditulis saat pembukaan. Seonggok arsip yang tidak terselamatkan karena penyimpanan dan perawatan kurang baik, disimpan di kotak kaca, diletakkan di depannya. Wujudnya sudah menyerupai gumpalan … More Mozaik-mozaik Kulon Progo dalam Bingkai Sederhana